A H Zone; Street Genre
another amazing stream of street photography
Halo, Uang!
What would you like to do if money were not object? How would you really enjoy spending your life?
Alan Watts
Seperti ketika seseorang berkata ‘jangan pikirkan gajah’, maka detik itu juga gajahlah yang hadir di kepala. Alan Watts memberikan pertanyaan ‘jika tidak ada uang’, dari situlah muncul kesadaran; ternyata selama ini semua adalah uang.
Salah satu titik balik kehidupan kebanyakan orang adalah selesainya pendidikan formal, yang meminta kelanjutan ‘mau jadi apa?’. Maka hadirlah deretan profesi yang minta dikerjakan. Memilih -jika bisa, dari opsi pekerjaan itu, hampir selalu didasari pertimbangan uang. Bahkan cita-cita yang katanya datang hari hati, jika dipikir dalam-dalam, bukankah itu adalah poin yang berada pada irisan antara kesenangan hati dan ketersediaan uang?
Mungkin uang telah begitu jauh membimbing, sehingga tanpa sadar ia selalu terselip dalam keputusan. Dari kecil kita diminta belajar sampai pintar, biar bisa jadi dokter atau pengacara. Mengapa tak pernah ada yang memberikan pilihan menjadi penjual sayur atau pembersih sampah? Bukankah semua profesi tadi memberikan jasa yang bermanfaat? Uang.
Sehingga begitu sulit untuk menjawab pertanyaan Alan Watts, ketika semua pekerjaan berbagi sisi dengan uang. Entah, samar-samar terbayang JK Rowling yang menulis naskah Harry Potter pada tisu dan kertas sisa di sebuah kafe. Atau Pramoedya Ananta Toer yang mengisahkan kehidupan Minke dalam kehidupan pengasingan. Mungkin Adi Purnomo yang menyusun bata-bata merah pada rumah-rumah rancangannya. Eko Prawoto yang menyusun pecahan sisa keramik di lantai menjadi pola-pola sulur. Atau Antonio Gaudi yang bereksperimen dengan konstruksi sarang semut untuk Sagrada Familia-nya.
Arsitek atau penulis adalah pekerjaan, tapi begitu sulit membayangkan mereka melakukannya demi uang. Ah, orang-orang itu. Mungkin mereka memang tidak bekerja, tapi berkarya.
I like this because it’s true, you have to walk
and take pictures, obviously :D
(Source: somethingwell)
i’m so bored then i make this;
final project yang nggak final-final!
Kodaline, The Answer
Watch your step or you might fall
You act like you’re a know-it-all
Yeah I used to do that, I used to be like that, I’m still a bit like that
You might think you found the one
Until your heart gets ripped and torn
Yeah I used to feel bad, I used to feel like that, still feel a bit like that
But I’m not searching for the answer
I’m not looking for the truth
I’m just talking through a speaker
Because that’s all that I have ever learned to do
Use your mind and make it talk
Cause in this world it’s all you got
And we all fall down from the highest clouds to the lowest ground
Loneliness is worst of all
When you got no one else to call
Feeling kind of sad when the times are bad, the times are getting bad
But I’m not searching for the answer
No I’m not looking for the truth
I’m just talking through a speaker
Because that’s all that I could ever learn to do
Because that’s all that I have ever learned to do
What about you, what about you, what about you,
what about you, what about you, what about you,
what about you, what about you
So watch your step or you might fall
You act like you’re a know-it-all
Yeah I used to do that, I used to be like that, I’m still a bit like that
Apa artinya terang tanpa dibandingkan dengan gelap? Karena ketika setiap adjektiva itu terparameterkan dengan kehadiran kebalikannya. Mereka subjektif bagi masing-masing perspektif. Sehingga ketika terbiasa melihat besar hanya dalam dunia sendiri, kata sifat apakah bagi mereka satu dari 18.000 di sini?
“Apa yang besar sebenarnya? Apa yang kecil? Satu dari 18.000 becak di Kota Bandung adalah soal kecil. Seorang dari sekian ratus ribu orang yang kehilangan mata pencaharian di Indonesia kini adalah soal kecil. Lagi pula, pada saat satu Sukardal mati, di sebuah sudut, satu genius yang sama hebat dengan Habibie mungkin baru lahir di sudut tanah air yang lain. Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari sejarah sebuah bangsa….
Penderitaan manusia?
Beberapa saat sebelum mati, Sukardal menulis sepucuk surat wasiat. Ia bicara kepada anaknya yang sulung: “Yani, adikmu kirimkan ke Jawa, Bapak sudah tidak sanggup hidup. Mayatku supaya dikuburkan di sisi emakmu.” Dan Yani, 22 tahun, yang bersama tiga adiknya yang kecil-kecil tinggal di sebuah bilik 4 x 4 m (yang disewa), tak sanggup. Wasiat itu terlalu berat. Mengirimkan jenazah ke Majalengka dari Bandung, bagi mereka, bukan perkara kecil.
Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?
Seorang bapak yang selama ini sendirian merawat anak-anaknya, dan jarang marah, adalah sesuatu yang besar bagi anak-anak itu. Sebuah becak yang seharga Rp 50 ribu, dan baru saja lunas dicicil, adalah sesuatu yang besar bagi keluarga itu.
Satu setengah meter dari pohon tempat Sukardal mati, ada tembok. Di sana tertulis (kemudian dihapus oleh petugas kepolisian): “Saya gantung diri karena becak saya dibawa anjing Tibum”.
Becak saya, kata Sukardal. Ada kebanggaan memiliki. Ada rasa marah karena sebuah hak direbut. Ada makian: huruf-huruf itu memprotes dan sekaligus putus asa. Dengan kata lain, sebuah perkara besar, karena ia justru terbit pada seorang yang begitu kecil.
Orang yang kecil adalah orang yang memprotes dengan keyakinan tipis bahwa protes itu akan didengar, dan karena itu teriaknya sampai ke liang lahad.”—
Goenawan Mohamad dalam ‘The Death of Sukardal’ (Majalah Tempo, Edisi. 21/XIIIIII/19 – 25 Juli 1986)
- Robin: Why am I constantly looking for reasons not to be happy?
- Kevin: Maybe the idea of finally being happy, terrifies you.
- - How I Met Your Mother, Season 7 Episode 5
Dari yang kita lalui, selalu ada titik terang di setiap ujung lorong. Dari sana, fakta itu dianalogikan sebagai kesenangan di balik kesusahan. Tapi walaupun ini nyata, mengapa begitu banyak yang tenggelam di kegelapan?
Logikanya, lorong adalah batas-batas yang kita bangun untuk mengurung diri. Di ujungnya, terdapat bukaan yang menjadi celah masuknya cahaya. Seperti kamar dan jendelanya. Ketika di dalam gelap, kenapa tidak dibuka saja jendelanya?
Zen Pencils Comic: 98. ALAN WATTS: What if money was no object?
What would you like to do if money were no object?
Haruskah ku lari ke hutan, belok ke pantai?
Dalam mencari ramai, ada orang yang pergi ke batas laut. Di sana mereka berteman dengan angin dan percikan air. Sesekali, berkesempatan menjumpai datang dan perginya matahari. Karena pantai begitu dermawan.
Munkin karena itu, sebagai imbalannya sebagian meninggalkan kenang-kenangan.




