menikmati itu bukan selalu memiliki.
  • Camera
  • Fujifilm SP-3000

menikmati itu bukan selalu memiliki.

i don’t see what anyone can see in anyone else but you.

i don’t see what anyone can see in anyone else but you.

Lahilote
Sebuah lukisan bertinta eceng gondok pada kanvas Danau Limboto, Gorontalo, salah satu karya Iwan Yusuf dalam proyek nya yang berjudul ‘Menghadap Bumi’.
Karya ini merupakan bentuk keprihatinan Iwan Yusuf terhadap pendangkalan air danau akibat sedimentasi material. Dengan kondisi danau yang terlihat seperti gugusan pulau kecil dari eceng gondok, Iwan Yusuf menyusun eceng gondok sehingga membentuk telapak kaki Lahilote -seorang pemuda legenda pada masyarakat Gorontalo. Dia menghela eceng gondok dengan perahu, menuju titik koordinat yang disusun dengan bambu.
Ketika pertama kali melihat gambar ini, yang terlintas adalah footprint, sebuah jejak kaki manusia berupa dampak pada bumi. Telapak kaki terbentuk dari eceng gondok, yang pertumbuhannya semakin massif karena sedimentasi, yang bermula pada penebangan hutan di hulu sungai.
Sang maestro berkata, “Melalui karya ini, saya ingin menyampaikan pesan pentingnya menjaga kelestarian danau Limboto secara berkelanjutan,”
Sumber gambar: link

Lahilote

Sebuah lukisan bertinta eceng gondok pada kanvas Danau Limboto, Gorontalo, salah satu karya Iwan Yusuf dalam proyek nya yang berjudul ‘Menghadap Bumi’.

Karya ini merupakan bentuk keprihatinan Iwan Yusuf terhadap pendangkalan air danau akibat sedimentasi material. Dengan kondisi danau yang terlihat seperti gugusan pulau kecil dari eceng gondok, Iwan Yusuf menyusun eceng gondok sehingga membentuk telapak kaki Lahilote -seorang pemuda legenda pada masyarakat Gorontalo. Dia menghela eceng gondok dengan perahu, menuju titik koordinat yang disusun dengan bambu.

Ketika pertama kali melihat gambar ini, yang terlintas adalah footprint, sebuah jejak kaki manusia berupa dampak pada bumi. Telapak kaki terbentuk dari eceng gondok, yang pertumbuhannya semakin massif karena sedimentasi, yang bermula pada penebangan hutan di hulu sungai.

Sang maestro berkata, “Melalui karya ini, saya ingin menyampaikan pesan pentingnya menjaga kelestarian danau Limboto secara berkelanjutan,

Sumber gambar: link

Di lapangan, saya pernah melihat rekan pengangkut-lensa saya duduk selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, bersama subjek mereka, mempelajari apa yang harus mereka ajarkan ke dunia, sebelum akhirnya mengangkat kamera ke mata.

Robert Draper dari National Geographic

marisasugangga said: aaaah thats so true mba rina. tidak lama ini aku baru benar2 menyadari bahwa kita memang harus berani mengambil keputusan ya :’))) kangen mbak!

halo, icha! hehe, bagus deh kalo gitu. semua pilihan ada konsekuensinya. gudlak yaa! kangen juga nih :D

Semesta bisa memberi petanda, menunjuk jalan harus ke mana.
Tapi jika hidup hanya menunggu petanda menunjukkan, kapan bisa berani mengambil keputusan?

robbaniamalromis:

Blue Sky, Shining Sun and Afternoon Trees.

habis hujan :D
  • Camera
  • ISO
  • Exposure
  • Canon EOS 550D
  • 100
  • 1/100th

robbaniamalromis:

Blue Sky, Shining Sun and Afternoon Trees.

habis hujan :D

Ketika seseorang memotret, pilihan atas apa yang dipotret merupakan suatu konstruksi budaya, yang terbuktikan dari apa yang tidak dipotretnya. Konstruksi itu merupakan suatu pembacaan atas peristiwa, yang intuitif dan berlangsung cepat sekali, memutuskan dengan segera pilihan atas objeknya. Pilihan ini akan sangat ditentukan oleh situasi sosial dan kehidupan pemotret, yang merupakan suatu argumen, suatu pengalaman, suatu cara menjelaskan dunia.

Seno Gumira Ajidarma - Kisah Mata (hal.30)

robbaniamalromis said: tone biru ini, kamera atau filmnya? tone tungsteen ini mungkin lebih cocok untuk menggambarkan suasana “dingin” “sejuk”, Jadi pemilihan tone warna yang tepat akan lebih menggambarkan suasana disana, karena tone itu “penguat suasana”.

nggak tau, rob. hasilnya jadi begini aja, sepertinya sih lensa kameranya. hahaha, this camera surpises me.

hello, yashica! i still don’t understand you.