Tapi ternyata mimpi juga harus ada aturannya. Harus ikut pakem dan pagu. Mimpi, sudah diberikan pilihan dari berbagai profesi:  dokter, guru, tentara, pedagang, insinyur, presiden, seniman,… Guru di kelas mengajarkan, mana pekerjaan yang tinggi dan mulia, mana yang bisa dijadikan cita-cita. Cita-cita harus setinggi langit. Tidak, tidak boleh kau jawab pertanyaan Ibu Guru dengan menjadi pengemis, tukang becak, pembantu, Superman, atau Robin Hood.

Cita-citaku adalah jadi turis.

Ibu Guru memotong, Tapi turis bukan cita-cita, kamu harus pilih jadi dokter, jadi guru, atau jadi insinyur.

Mengapa?

- Agustinus Wibowo dalam Titik Nol

Falling for someone’s work, means falling for someone’s mind.

video presentasi avianti armand -puisi dan arsitektur-

Apa yang kulihat tentu cuma fatamorgana ketika suatu pagi di musim 

semi, sebuah hutan putih merembes dari pori-pori aspal yang panas. 

Tapi kamu yang tak pernah berdusta menaburkan suara ribuan burung di 

udara untuk membuatku percaya.

“Apa yang kau dengar adalah apa yang kau lihat.”

Avianti Armand


Banyak dari kita yang melakukan programming. Tapi berapa dari kita yang benar-benar memberikan ‘kesempatan’ pada ruang?

taking picture after the rain

taking picture after the rain

Masihkah aku punya muka menemuinya, setelah membiarkannya hidup dalam penantian dan kekhawatiran begitu lama?

Agustinus Wibowo dalam Titik Nol

ak, i’ll be home soon.

living her own world
Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Bali

living her own world

Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Bali

Salah satu gang kecil di Ubud, Bali.

Salah satu gang kecil di Ubud, Bali.

Satu sore yang mendung di Denpasar. Ada yang menikmatinya sambil berlari, membawa peliharaan, menikmati kerikil untuk refleksi, bermain sepak bola di tanah lapang, atau sekedar duduk-duduk di pinggiran.

Lapangan Puputan Margarana, Renon, Denpasar.

Engkau adalah titik, aku pun titik. Kita adalah kumpulan titik yang menjadi warna-warni semesta.

Titik Nol ~ Agustinus Wibowo

(via gramedia)

ini buku minta dibeli banget, sih.

Bali.

Pulau kecil, sehingga mencari pantai bukan hal yang sulit. Langitnya cerah berlimpah cahaya. Angin laut berhembus kencang mengantar gelombang. Mereka dari barat jauh sana, menganggap ini seperti surga.

Maka biar mereka semakin sering datang, surga tadi diadaptasikan seperti kampung halaman mereka. Deretan papan selancar di pinggir pantai, pertemuan visualisasi modern dan tradisional, penggunaan budaya dan bahasa mereka yang berbeda, demi daya tarik komersil sesuai dengan kantong mereka.

Lalu penghuni asli surga ini, mereka berwisata ke mana?

Setiap detik yang tersisa, haruslah dilewati dengan penuh makna.

Agustinus Wibowo dalam Titik Nol (via kuntawiaji)

hey, Malang!

Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Bali
Fuji Superia 200 (expired 2009)

Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Bali

Fuji Superia 200 (expired 2009)

Karena sampah mesti dikumpulkan, daun-daun kering harus dibersihkan. Di antara hiruk pikuk pariwisata.

Uluwatu, Bali

Bali, wisata dan kontrasnya; lokal/impor, cerlang/bayang, masif/transparan, perkerasan/pohon, publik/ekslusif, murah/mahal.
Kamu, masuk kategori yang mana?

Bali, wisata dan kontrasnya; lokal/impor, cerlang/bayang, masif/transparan, perkerasan/pohon, publik/ekslusif, murah/mahal.

Kamu, masuk kategori yang mana?

Kau tahu, betapa indahnya mengakui ‘belum’? Belum tahu, belum pernah, belum selesai. Karena ketika muncul perasaan ‘sudah’, maka akan datang keinginan untuk berhenti. Berhenti mencari, berhenti belajar, berhenti melanjutkan.

sebuah makna dari perasaan belum bisa. terimakasih.

Klotok, Kediri, Jawa Timur.