Salah Satu Cara

Seorang teman pernah bertanya, “Mengapa berdoa? Jutaan orang berdoa untuk kedamaian Palestina, tapi mana jawabannya?”

Karena doa terjawab dengan cara yang misterius. Saya percaya ini bukan kebetulan, ketika satu sore hujan turun dan toko buku hadir sebagai tempat berteduh.

Bukan kebetulan, ketika kegundahan dan pertanyaan yang tersimpan selama ini juga tertulis di buku yang akhirnya dibeli. Tentang dilema antara mimpi berkelana dengan panggilan pulang ke rumah. Tentang logika dan rasa yang berlomba menjadi negasi satu sama lain. Tentang rasa bersalah menggapai cita, ketika kenyataan terus meminta untuk menyerah. Tentang mengambil keputusan untuk hidup yang katanya milik kita sendiri, tapi ternyata membawa dampak yang besar bagi orang lain.

Di rumahlah akan kau temukan apa yang selama ini hilang. Apa yang kau cari selama ini, sebenarnya ada di rumah.

Agustinus Wibowo - Titik Nol

Ini bukan kebetulan. Ini adalah salah satu cara-Nya.

mending nggak mbak. biarkan otak dan hati bekerja dengan porsinya masing-masing ;)
eh, felis. hahaha. iya fel, setuju kok. lagian menurutku hati dan otak itu pada dasarnya sama-sama suara dalam diri, yang dibedakan untuk menamai pros and cons yang dipake untuk mempertimbangkan sebuah keputusan.

Ketika semua logika menuju kata ‘tidak’, masihkah perlu menjaga hati untuk berkata ‘iya’?

Insya Allah-nya jangan lupa.

Insya Allah-nya jangan lupa.

(Source: teachingliteracy)

I felt the earth beneath my feet
Sat by the river and it made me complete

Oh simple thing where have you gone?
I’m getting old and I need something to rely on

Somewhere Only We Know - Keane

Kampung Embong Brantas, Februari 2013

Masih segar dalam ingatan, tahun lalu ketika melewati gang-gang ini, anak-anak kecil berhenti dari permainannya, sekedar menyapa atau bertanya; kapan ngaji lagi? Tapi kemarin, saya lewat dan mereka hanya melirik sekilas. Tanpa sapa, mereka tak berkutik dari permainannya.

Setahun ini cukup membawa beda. Pada beberapa titik terlihat pergola muda, menggantungkan buah manisa dan daun-daun yang memberikan bayangan. Di sana-sini mulai terlihat penanda menyerukan slogan ‘penghijauan’. Semakin masuk menjauh dari arah jalan, bertemu sungai yang pinggirnya semakin bersih dari sampah buangan.

Lorong-lorong memang masih terlihat sama. Pot tanaman yang diletakan  berjejer untuk menambah hijau, paralel dengan kendaraan yang tetap harus dimatikan ketika lewat. Orang-orang yang duduk di sisi teras, sambil bertukar cerita dari rumah ke rumah. Senyum mereka masih ada, tapi pandangan kenal itu sudah entah ke mana. Yang tersisa hanyalah keramahan pada asing yang datang berkunjung.

Kemarin saya datang karena tak tahu entah kapan bisa bertandang lagi. Kepergian nanti membuat saya ingin mengucap selamat tinggal. Walau akhirnya, ternyata selama ini saya telah lebih dulu meninggalkan.

Sore-sore ngajak si Zenit E jalan-jalan dengan Superia yang expired 2009 lalu itu hasilnya cakep!
Kampung Embong Brantas, Malang.

Sore-sore ngajak si Zenit E jalan-jalan dengan Superia yang expired 2009 lalu itu hasilnya cakep!

Kampung Embong Brantas, Malang.

Tapi ternyata mimpi juga harus ada aturannya. Harus ikut pakem dan pagu. Mimpi, sudah diberikan pilihan dari berbagai profesi:  dokter, guru, tentara, pedagang, insinyur, presiden, seniman,… Guru di kelas mengajarkan, mana pekerjaan yang tinggi dan mulia, mana yang bisa dijadikan cita-cita. Cita-cita harus setinggi langit. Tidak, tidak boleh kau jawab pertanyaan Ibu Guru dengan menjadi pengemis, tukang becak, pembantu, Superman, atau Robin Hood.

Cita-citaku adalah jadi turis.

Ibu Guru memotong, Tapi turis bukan cita-cita, kamu harus pilih jadi dokter, jadi guru, atau jadi insinyur.

Mengapa?

- Agustinus Wibowo dalam Titik Nol

Falling for someone’s work, means falling for someone’s mind.

video presentasi avianti armand -puisi dan arsitektur-

Apa yang kulihat tentu cuma fatamorgana ketika suatu pagi di musim 

semi, sebuah hutan putih merembes dari pori-pori aspal yang panas. 

Tapi kamu yang tak pernah berdusta menaburkan suara ribuan burung di 

udara untuk membuatku percaya.

“Apa yang kau dengar adalah apa yang kau lihat.”

Avianti Armand


Banyak dari kita yang melakukan programming. Tapi berapa dari kita yang benar-benar memberikan ‘kesempatan’ pada ruang?

taking picture after the rain

taking picture after the rain

Masihkah aku punya muka menemuinya, setelah membiarkannya hidup dalam penantian dan kekhawatiran begitu lama?

Agustinus Wibowo dalam Titik Nol

ak, i’ll be home soon.

living her own world
Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Bali

living her own world

Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Bali

Salah satu gang kecil di Ubud, Bali.

Salah satu gang kecil di Ubud, Bali.

Satu sore yang mendung di Denpasar. Ada yang menikmatinya sambil berlari, membawa peliharaan, menikmati kerikil untuk refleksi, bermain sepak bola di tanah lapang, atau sekedar duduk-duduk di pinggiran.

Lapangan Puputan Margarana, Renon, Denpasar.

Engkau adalah titik, aku pun titik. Kita adalah kumpulan titik yang menjadi warna-warni semesta.

Titik Nol ~ Agustinus Wibowo

(via gramedia)

ini buku minta dibeli banget, sih.