Ada masa-masa di mana makna pertemuan menjadi begitu absurd. Dia tak lagi sekedar persamaan ordinat dari dua titik yang berbeda, karena sepertinya titik temu tak lagi hanya sekedar fisik.
Saat di mana dia menjelma menjadi rinai hujan yang membuat riak di genangan air. Ketika keberadaan adalah penurunan temperatur atau bias air yang menyentuh diri. Karena indra merasai kesamaan dengan masa lalu, maka tanpa sadar terjadi perjumpaan dengan kenangan.
Lain waktu saat perbedaan titik menjadi jarak, kata-kata hadir merajut sambungan yang mempertemukan. Karena fisik memang bisa dipisahkan oleh jarak, tapi bukan jarak yang memisahkan pemikiran yang ingin bersapa.
Karena memang tak ada yang kebetulan, sehingga kehadiran jarak tak perlu ditentang. Menerima jarak, dalam suatu cara yang aneh, bisa menjadi simpul pertemuan.
Seseorang mengatakan, “Maaf, saya tak boleh mengucapkan Selamat Waisak karena saya Muslim.” Seorang Buddhis akan mengerti bahwa orang itu sebenarnya mengucapkan apa yang tak diucapkannya. Dalam percakapan yang diam, ada yang tak bisa dijangkau oleh fatwa.
Goenawan Mohamad dalam Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali
benarkah?
Belakang, bawah, kadang sering menjadi sisi sisa. Jadi biarlah sampah dibuang ke sana, karena depan dan atas lebih berharga untuk mata.
Tapi ternyata, anak kecil bisa melihat tanpa mata.
air; tempat di mana kamu bisa berpasangan langsung dengan langit.
4 tempat. 4 jenis roll film. 1 kamera.
Selorejo-Malang/Camplong-Madura/Kuta-Bali/Pagatan-Kalimantan Selatan.
di sini adalah titik temu, di mana perairan bertemu daratan, di mana peradaban bersapa dengan alam. samar di antara pertemuan itu, tampak terlihat garis batas.
permukiman pinggir sungai Sebangau, Palangkaraya.
*i miss my analog camera.
air!
Metro Files: Sang Perintis #1 (-#6)
Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (1880-1918): Bapak Pers Nasional, salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, pendiri koran berbahasa Melayu pertama di Hindia Belanda, pelopor gerakan organisasi pemuda Indonesia, inspirasi Pramoedya Ananta Toer dalam roman Tetralogi Pulau Buru,
Selesai membaca Tetralogi Pulau Buru, salah satu pertanyaan yang muncul adalah mengapa saya tidak pernah mendengar tentang tokoh sepenting itu dalam pelajaran sejarah. Namun sekali lagi terimakasih pada internet, yang telah mengubah tanya itu menjadi mengapa sejarah bangsa sendiri tidak dicoba untuk dikenal?
Tak terbilang tokoh yang terlepas dari kesadaran historis kita, entah karena pemburaman ‘sejarah’ yang memang sering dikuasai kaum yang menang atau lantaran kita tak pernah sungguh-sungguh jujur dalam menilai kembali ‘sejarah’ kita sendiri.
They say don’t judge a book by its cover, but I start to like Fall Out Boy because this amazing album cover.
Sebelumnya, Fall Out Boy hanya sekedar another band to be listened, sekarang lagu Young Volcanoes selalu terputar di kepala. Semuanya berawal dari ketertarikan melihat cover albumnya, dan selanjutnya terimakasih untuk internet.
Album art ini menggunakan foto dari Roger Stonehouse, seorang fotografer yang tinggal di Canberra, Australia. Foto ini berjudul An Odd Couple, tentang seorang anak punk dan seorang biksu muda yang berjalan beriringan. Foto ini digunakan sebagai cover album karena dianggap cukup merepresentasikan isi album; one definitely indebted to the past, but defiantly points towards the future.
Foto diambil di Bagan, Myanmar (Burma) pada Ananda Festival di sekitar kuil Ananda, tepatnya 4 Januari 2012 lalu. Kamera yang digunakan adalah Canon EOS 5D.
Human interest, kontradiksi, realita, semuanya ada dalam pengabadian momen lewat foto ini. Great, this is my kind of favorite photo!
#800
Ketika setiap aksara berubah jadi kata, isi hati bisa jadi bukan lagi rahasia. Di ruang ini, sudah berapa banyak isi kepala yang bisa dibaca? Ini yang ke 800.
Semuanya berawal dari prasangka, reaksi pikiran dari hal-hal yang ada. Mungkin terlalu ceroboh, karena dulu tanpa benar-benar merasakan sudah bisa membuat kesimpulan. Ah, sombong. Lalu menghakimi dan membuat rencana; tak ingin begitu dan jadi seperti itu.
Karena ketika tiba keadaan menaruh diri di posisi yang sama, bukankah suatu kemunafikan ternyata kita bereaksi seperti yang tak ingin direncanakan? Walau akhirnya logika mulai menyadarkan kesalahan dari prasangka yang terburu-buru itu. Lalu hati seakan berucap, meminta kehati-hatian dalam mengolah reaksi diri.
Seperti yang dirasakan Pangemanann, seakan seorang tua bersweater muncul di seberang ruang. Sambil tersenyum dia berkata, bahwa seorang terpelajar sudah harus adil sejak dalam pikiran. Bukankah kata itu pernah kau kutip di ruang ini?
Jangan mengukur kebijaksanaan seseorang hanya karena kepandaiannya berkata-kata tapi juga perlu dinilai buah fikiran serta tingkah lakunya.
sukarno bilang, “burung yang terikat kakinya akan lupa bhwa sebenarnya dia mmiliki sayap” atau lupakan sukarno, dlm prspektif lain bukankah justru pngalaman terikat itulah yang mendorongnya semakin trbang tinggi nanti, memaknai stiap momentum sih :)




